google

September

15

Masa Tua Bahagia

Tidak semua orang dapat melewati masa tua dengan bahagia. Tak banyak orang menikmati masa pensiun dengan nyaman. Di usia purnabakti, menjalani hidup bersama istri yang setia, anak dan cucu yang menyejukan pandangan. Mempunyai waktu membaca surat kabar di pagi hari sambil menikmati hangat mentari. Masih berkesempatan berlibur menjelajah setiap tempat wisata sekedar menyegarkan ingatan.  Menjalani masa senja dengan senyum yang tak lekang oleh usia.

Sebaliknya banyak orang di masa tuanya masih harus banting tulang mencari nafkah bagi keluarga. Hidup dalam kesengsaraan dan beban yang tak berkesudahan hingga ajal menjemput. Itu semua bisa jadi karena faktor kebutuhan hidup. Ironisnya, banyak orang yang semestinya dapat menikmati masa tua dan masa pensiun, justru mengalami penurunan derajat kebahagiaan itu. Didorong rasa tidak mensyukuri dan merasa cukup dengan yang didapat. Merasa kurang dengan harta dan pencapaian yang telah diraih. Kehilangan yang teramat sangat pada jabaan yang ditinggalkannya, post power sindrome. Merasa kehilangan kehormatan, harga diri hingga akhirnya merasa terbuang.

Adalah pak Pujo, mantan guru saya. Mungkin beliau termasuk golongan orang yang saya sebutkan pertama. Pak Pujo merupakan contoh orang yang menikmati masa tua dan masa pensiun dengan bahagia. Saat berlangsung kegiatan sekolah kemarin di Sukabumi, panitia mengundang para mantan guru dan  pegawai yang telah pensiun serta para muridnya. Salah satunya, pak Pujo. Pada setiap rangkaian kegiatan baik selama perjalanan hingga sesi wisata, tak terlihat ada ciri-ciri post power sindrome. Beliau antusias dan atraktif meningkuti sesi kegiatan yang serius, menyanyi dan berjoget saat selingan hiburan, bersendau gurau akrab dengan hampir semua guru, pegawai, dan murid, bahkan yang tergolong baru sekalipun.

Badannya yang gemuk ginuk-ginuk dan cara bicaranya yang lucu selalu menyegarkan setiap suasana. Selalu menikmati makanan apapun yang terhidang tanpa pantangan. Meskipun setelah makan sate kambing atau duren, harus berjalan dengan kaki diseret. Namun semuanya dinikmati dengan lahap. Dalam kamusnya, makanan hanya ada dua rasa, enak dan enak sekali. Bagi orang yang sudah kenyang, namun melihat cara makan pak Pujo akan merasa lapar. Suaranya bagus kalau bernyanyi, gayanya lucu kalau berjoget dan seperti tak habis tenaga, pak Pujo akan terus bernyanyi dan bergoyang dari awal hingga habis acara. Tak mungkin tawa bisa ditahan jika pak Pujo beraksi. Semuanya alami dan mengalir tanpa rekayasa.

Pak Pujo mungkin perwujudan manusia dengan filosi jawa. Alon-alon waton kelakon. Menikmati setiap tarikan nafas kehidupan. Menjalani setiap detik masa yang diberikan. Dengan rasa cukup dan syukur. Sejak saya menjadi muridnya, jarang sekali terdengar keluh kesah. Dan sangat jarang pula raut kemarahan terpancar dari wajahnya. Jiwa ngayomi dan sabar begitu dominan. Meskipun itu akhirnya memunculkan persepsi bahwa sebagai pejabat, pak pujo sangat lambat, kurang inisiatif dan tidak tegas. Tapi itulah pembawaannya pak Pujo.

Betapa banyak orang gelisah menjelang pensiun. Kasak kusuk agar masa kerjanya diperpanjang. Tapi pak pujo sepertinya menikmati masa yang memang telah ditetapkan. Ketika saya tanya, apakah ada keluhan atau mengecewakan terhadap perjalanan yang telah panitia siapkan. Beliau mengatakan sangat memuaskan dan berterima kasih atas kesempatannya. Itulah cara pandang pak pujo. Bukan panitia yang menyiapkan dengan baik, tetapi bagaimana cara beliau menikmati benar setiap moment.

Sekali lagi, tak banyak orang dapat melewati masa tua dengan bahagia. Menikmati masa pensiun dengan nyaman. Menyaksikan rekaman kegiatan selama di Sukabumi dengan tingkah laku pak Pujo, saya berfikir; betapa nikmatnya masa pensiunnya. Mungkinkah nanti saya dapat menikmati masa tua dan pensiun dengan bahagia seperti itu.

Manusia memang hanya berencana dan berkehendak. Tak ada manusia yang tak ingin bahagia dari lahir hingga ajal menjemput. Dari usia muda hingga masa tua. Dan pak Pujo, memberikan pelajaran dan hikmah kepada saya. Bagaimana menjadi tua dan melewati masa pensiun dengan bahagia.

Kemarin-kemarin teman  saya bilang begini:

Mending kaya’ gue, ga pake jilbab tapi kelakuan gue jauh lebih baik daripada dia yang pake jilbab. Sok-sokan ngomongin agama mulu, selalu ceramah, tapi kelakuannya bejat. Mending gue ga punya agama, tapi kelakuan gue ga bejat.”

Saya gak tau harus berkata apa kalau sudah begini. Jadinya saya hanya bisa diam. Saya tau wanita yang memakai jilbab diekspektasi berlebihan oleh orang lain. Diharapkan wanita berjilbab itu yang imannya kuat, selalu memegang teguh ajaran agama, tidak berbuat dosa, dll dsb dst.

Padahal, menurut saya, mau pake jilbab atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan tingkat keimanan seseorang. Siapa kita yang berhak menghakimi orang berdasarkan atribut yang dia pakai? Siapa kita yang berhak memiliki ekspektasi terhadap orang lain terkait hubungan mereka dengan Tuhannya?

Kenapa tidak melihat orang lain dari perbuatannya, mengesampingkan segala macam atribut yang dikenakan? Kalau misalnya dia memang bejat, ya sudah bejat. Jangan bawa-bawa atribut jilbabnya, pecinya, kalung salibnya, or whatever.

Ada juga yang bertanya tentang pendapatku itu,

Tapi itu kan artinya dia menipu orang lain. Tampilan luarnya terkesan alim, tapi dalamnya bobrok. Apa-apaan orang macam itu?

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan melihat orang lain dari tampilan luarnya. Ya, anggap sajalah kita harus bisa pandai-pandai menilai orang. Lagian, bukankah kita, manusia, selalu ingin mengimpresi orang lain? Kita ingin mendapatkan perhatian. Juga pengakuan. Sehingga, untuk memperolehnya kita akan melakukan apa saja termasuk menipu diri sendiri dan orang lain…  Dalam hal ini bagaimana cara kita berpakaian. Ini membuatku ingin sekali berpenampilan dan berperilaku muslimah.